KADUHI SKAO SEBAGAI IDE
PENCIPTAAN PADA KARYA LOGAM
Bahan : Plat tembaga 0,9 mm, besi hollow, kayu bayur
Teknik : Tatah logam, kerawang, dan las listik
Ukuran : 68 cm x 50 cm x 3,5 cm x 35,5 cm
Karya yang berjudul “Munarai” merupakan karya yang memiliki fungsi sebagai lampu hias atau karya tiga dimensi yang berfungsi sebagai lampu hias pada sudut ruangan. Karya ini bersumber dari salah satu kegiatan dari kaduhi skao, yaitu munarai. Kegiatan ini merupakan tahapan ketujuh dari kaduhi skao. Pada karya ini, pengkarya mencoba menghadirkan visual beberapa acara puncak dalam kaduhi skao, tari yang ditampilkan terdiri dari tiga, yakni tari rangguk, tari iyo-iyo, dan tari anak batino, ketiga tarian tersebut memiliki makna yang berkaitan dengan seluruh rangkaian acara kaduhi skao. Tari rangguk berasal dari kata “angguk” yang di artikan sebagai persetujuan dari anak batino atas pengangkatan gelar adat yang telah dilaksanakan, tarian ini ditarikan oleh penari perempuan. Tari iyo-iyo merupakan gambaran kegembiraan anak batino atas pengangkatan gelar dan terlaksananya kaduhi skao dengan aman dan lancar. Tari sembah anak batino merupakan wujud doa-doa kepada Yang Maha Kuasa atas pengangkatan gelar adat.
Bahan : Plat aluminium 0,9 mm
Teknik : Tatah logam
Ukuran : 83 cm x 123 cm
Karya yang berjudul “Musyawarah Adat” merupakan karya yang memiliki fungsi sebagai panel atau karya dua dimensi yang berfungsi sebagai hiasan ruangan. Karya ini bersumber dari salah satu kegiatan dari kaduhi skao, yaitu musyawarah adat. Kegiatan ini merupakan tahapan awal dari kaduhi skao. Pada karya ini, pengkarya mencoba menghadirkan visual beberapa perwakilan ninek mamak, para petinggi adat, dan para pemerintahan yang ada di dalam wilayah depati IV Kumun Debai yang sedang melaksanakan musyawarah adat. Lokasi pelaksanaan musyawarah adat yaitu di masjid. Adapun yang dibahas saat musyawarah adat yaitu mengenai pelaksanaan acara kaduhi skao, waktu pelaksanaan, dan jumlah dana yang dibutuhkan.
Visual karya memperlihatkan enam orang laki-laki duduk berjejer beralaskan tikar, ada yang melihat ke kiri atau ke kanan, ke depan, serta ada yang menunduk. Di depan mereka terdapat seguhan makanan ringan yang di letakkan dalam piring. Pewarnaan pada karya ini menggunakan merah maron pada background, pengkarya memilih warna merah maron pada background karya yaitu berkesan kehangatan masyarakat Kumun Debai berpartisipasi dalam acara kaduhi skao dan juga untuk memberi sisi gelap pada background karya tersebut. Pengkarya juga menggunakan warna asli pada plat aluminium supaya objek pada karya terlihat gelap terangnya. Finishing yang pengkarya gunakan pada proses penciptaan ini ialah menggunakan thinner yang digunakan untuk mengkilatkan bagian objek karya, dengan cara menggosok bagian objek karya pada plat dengan tisu yang sudah diberi thinner.
Bahan : Plat aluminium 0,9 mm
Teknik : Tatah logam
Ukuran : 83 cm x 123 cm
Karya yang berjudul “Negeak Karanta” merupakan karya yang memiliki fungsi sebagai panel atau karya dua dimensi yang berfungsi sebagai hiasan ruangan. Karya ini bersumber dari salah satu kegiatan dari kaduhi skao, yaitu negeak karanta. Kegiatan ini merupakan tahapan kedua dari kaduhi skao. Pada karya ini, pengkarya mencoba menghadirkan visual bentuk dari bendera karanta yang ada di dalam wilayah depati IV Kumun Debai. Bendera karanta ini didirikan tujuh hari sebelum dilaksanannya acara kaduhi skao. Bertujuan untuk menginformasikan kepada masyarakat luas bahwa wilayah Depati IV Kumun Debai akan melaksanakan upacara adat yaitu kaduhi skao.
Visual karya memperlihatkan dua buah bendera karanta yang sedang berkibar mengingatkan bahwa wilayah depati IV Kumun Debai akan melaksanakan acara kaduhi skao. Di atas bendera karanta terdapat awan-awan dan dibelakang bendera karanta terdapat perbukitan sebagai objek pendukung pada karya tersebut. Di dalam karya tersebut ada juga beberapa burung yang berterbangan menggambarkan ungkapan rasa senang dan kegembiraan dalam melaksanakan acara kaduhi skao.
Bahan : Plat aluminium 0,9 mm
Teknik : Tatah logam
Ukuran : 83 cm x 123 cm
Karya yang berjudul “Ziarah Kubuk Ninaek” merupakan karya yang memiliki fungsi sebagai panel atau karya dua dimensi yang berfungsi sebagai hiasan ruangan. Karya ini bersumber dari salah satu kegiatan dari kaduhi skao, yaitu ziarah kubuk ninaek. Kegiatan ini merupakan tahapan ketiga dari kaduhi skao. Pada karya ini, pengkarya menjelaskan beberapa orang adat pergi berziarah ke makam orang-orang terdahulu tiga hari sebelum acara kaduhi skao dilaksanakan. Salah satu dari orang adat melakukan pembacaan doa dan ritual untuk bertujuan meminta izin kepada orang-orang terdahulu agar acara kaduhi skao di wilayah Depati IV Kumun Debai berjalan dengan lancar dan minta izin bahwa wilayah Depati IV Kumun Debai akan melaksanakan acara kaduhi skao, ziarah ini juga untuk menghargai orang-orang yang terdahulu.
Visual karya memperlihatkan enam orang laki-laki yang sedang pergi berziarah, ada yang melihat ke kiri atau ke kanan, ke depan, serta ada yang melihat ke belakang. Di depan mereka terdapat makam yang diberi atap dan di sekeliling makam diberi pagar dan tumpukan batu yang sudah di susun rapi serta diberi semen. Satu orang yang berdiri di tengah salah satu petinggi adat yang sedang menunjukkan bahwa yang didepan mereka itu adalah makam orang-orang terdahulu. Di belakang makam terdapat perbukitan dan di atas perbukitan terdapat awan-awan sebagai objek pendukung pada karya tersebut. Di dalam karya tersebut ada juga beberapa burung yang berterbangan menggambarkan ungkapan rasa senang dan kegembiraan dalam melaksanakan acara kaduhi skao.
Bahan : Plat aluminium 0,9 mm
Teknik : Tatah logam
Ukuran : 83 cm x 123 cm
Karya yang berjudul “Maliyak Skao” merupakan karya yang memiliki fungsi sebagai panel atau karya dua dimensi yang berfungsi sebagai hiasan ruangan. Karya ini bersumber dari salah satu kegiatan dari kaduhi skao, yaitu maliyak skao. Kegiatan ini merupakan tahapan kelima dari kaduhi skao. Pada karya ini, pengkarya mencoba menghadirkan visual beberapa orang adat yang membunyikan gong setelah sampainya pembawa benda pusaka dilokasi acara bertujuan untuk memperlihatkan benda-benda pusaka atau peninggalan orang-orang terdahulu kepada semua masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam acara kaduhi skao di wilayah Depati IV Kumun Debai, seorang yang membunyi gong atau memukul gong tersebut pemerintahan tertinggi di Kumun Debai yaitu walikota dan didampingi oleh petinggi adat yang ada di wilayah Depati IV Kumun Debai dan pembawa benda-benda pusaka ini yaitu salah perwakilan dari orang adat.
Visual karya yang bagian pertama menggambarkan lima orang laki-laki yang sedang berdiri, satu orang sedang memukulkan gong dan ada juga satu orang yang sedang berdiri di samping sebelah kanan orang yang sedang memukulkan gong, serta ada juga tiga orang yang sedang berdiri dibelakang gong tersebut. Pemukulan gong dilakukan oleh pemerintahan tertinggi serta didampingi oleh petinggi adat yang ada di wilayah depati IV Kumun Debai. Visual karya yang bagian kedua menggambarkan tiga orang yang sedang memperlihatkan benda pusaka, benda pusaka tersebut diperlihatkan oleh orang-orang adat. Di depan ketiga orang adat terdapat sebuah meja yang beralas kain, diatas meja terdapat peti kecil tempat menyimpan benda pusaka setelah selesai diperlihatkan. Di samping kanan bawah terdapat bunga, dibelakang terdapat perbukitan, dan di atas terdapat awan-awan sebagai objek pendukung pada karya tersebut. Di dalam karya tersebut ada juga beberapa burung yang berterbangan menggambarkan ungkapan rasa senang dan kegembiraan dalam melaksanakan acara kaduhi skao.
Nama : Wahyu
Nim : 09411421
Tahun : 2023