TRAVELING TAPANULI SELATAN
DALAM TRAVELING PHOTOGRAPHY
Gapura Selamat Datang Tapanuli Selatan
Itak Pohul-Pohul
Memanen Kopi
Pengerajin Ulos Batak Sipirok
Bermain Alat Musik Nung-Neng
Danau Siais
Tor Simago -mago
Air Terjun Timbulan
Air Terjun Silima-lima
Air Terjun Simatutung
Lokasi : Tapanuli Selatan
Ukuran : 40 xm x 60 cm
Media : Photo paper laminating doff
Karya foto ini merupakan karya foto pertama atau pembuka dalam penciptaan karya Eksplorasi Tapanuli Selatan dalam Traveling Fotografi yang berjudul Gapura Selamat Datang Tapanuli Selatan, gapura ini merupakan salah satu akses menuju Tapanuli Selatan apabila kita sedang berjalanan dari Kota Medan melewati jalur Kota Sibolga.
Karya ini diambil menggunakan Camera Sony a6400, lensa Artisan Fish-Eye 7.5 mm, dengan setingan camera Iso 125 shutter speed 1/500 dan exposure f/0. Pengkarya menggunakan komposisi Low Angle dimana posisi kamera berada pada sudut bawah objek, sehingga memberikan kesan objek lebih besar juga terlihat elegan, dominan dan kuat, gapura ini adalah penghubung antara wilayah perbatasan Kabupaten Tapanuli Tengah dengan Kabupaten Tapanuli Selatan. Pada karya pembuka ini pengkarya menggunakan setingan kamera dengan iso 125, shutter speed 1/500 sec dan exposure f/0.
Lokasi : Tapanuli Selatan
Ukuran : 40 xm x 60 cm
Media : Photo paper laminating doff
Penanaman biji kopi di daerah Sipirok telah dimulai sejak masa kolonial Belanda. Pada masa Kerajaan Siregar Akkola Dolok tahun 1839, tanaman kopi dikenal pertama kali dan kemudian dijual kepada pemerintah kolonial Belanda.
Pada penciptaan karya kesepuluh yang berjudul Memanen Kopi dimana memvisualkan seorang bapak yang sedang memanen kopi Sipirok yang sudah matang. Kopi Sipirok yang dipanen adalah campuran antara kopi Arabika dan Robusta. Kopi ini umumnya tumbuh subur di daerah dataran tinggi yang memiliki suhu udara relatif dingin. Perkebunan kopi Sipirok ini umumnya dikelola oleh masyarakat lokal di Sipirok, yang berada di zona penyanggar Cagar Alam Sibual-buali, dengan ketinggian antara 1200 hingga 1300 meter di atas permukaan laut.
Karya ini diambil menggunakan Camera Sony a6400, lensa Fish-Eye 7.5 mm, dengan setingan camera Iso 125, shutter speed 1/640 dan exposure f/0. Pengkarya menggunakan komposisi Low Angle dan framing dimana posisi kamera berada pada sudut bawah objek, sehingga memberikan kesan kedalaman yang dramatis dan daun yang membentuk framing pada objek utamanya.
Lokasi : Tapanuli Selatan
Ukuran : 40 xm x 60 cm
Media : Photo paper laminating doff
Itak Pohul-pohul merupakan makanan tradisional khas Tapanuli Selatan. Makanan ini dibuat dari campuran tiga bahan pokok, yakni tepung beras, gula merah dan kelapa parut. Setelah semua bahan dicampur rata, ambil sebagian kecil adonan dan bentuklah dengan jari-jari hingga membentuk bulatan panjang menyerupai bekas kepalan tangan. Oleh karena itu, kue ini dinamakan pohul-pohul, yang diambil dari bahasa Batak yang berarti “kepalan tangan”. Ada dua cara untuk menyajikan kue pohul-pohul ini, yaitu membiarkannya mentah atau mengukusnya.
Arti dari pohul-pohul dalam konteks adat ini memiliki dua makna. Pertama, seperti proses pembuatan pohul-pohul yang melibatkan pemadatan dengan tangan sehingga menghasilkan kue yang padat dan tidak mudah basi. Hal ini mencerminkan bahwa diskusi dan perdebatan selama musyawarah marhusip bertujuan untuk mencapai keputusan yang kuat.
Karya ini di ambil menggunakan Camera Soni a6400, lensa Sony 18-105 mm dengan setingan camera Iso 800, bukaan diafragma f/4.5 dan shutter speed 1/125 sec. Pengkarya menggunakan teknik komposisi High Angle dan Detail dimana penempatan kamera lebih tinggi dari objek yang akan diambil, yang bertujuan untuk memperlihatkan secara detail bentuk dari Itak Pohul-pohul.
Lokasi : Tapanuli Selatan
Ukuran : 40 xm x 60 cm
Media : Photo paper laminating doff
Di balik indahnya Kain Ulos, terdapat para pengrajin Tenun atau penenun yang setiap pengerjaannya masih menggunakan metode tradisional dipadu dengan keterampilan tangan manusia. Di Tapanuli Selatan tepatnya Sipirok, terdapat penenun Kain Ulos yang sudah menjadi pekerjaan utama bagi masyarakat setempat. Pengerajin Kain Ulos ini biasanya di bayar setelah Kain Ulos selesai di buatnya, biasanya Kain Ulos yang sudah selesai di kerjakannya akan di beri upah sekitar 200 sampai 300 rupiah, dengan jangka waktu yang tidak menentu tergantung pengerajin tersebut. Biasanya proses pembuatan Kain Ulos ini bisa 3 hari sampai berminggu-minggu tergantung skill dan keahlian si pengerajin.
Pada penciptaan karya ketiga belas yang berjudul Pengerajin Ulos Batak Sipirok, Pada penciptaan karya foto ini pengkarya memvisualkan seorang perempuan pengerajin Ulos Batak Sipirok. Sumatera Utara terkenal dengan kerajinan khasnya yang ikonik yaitu Kain Ulos salah satunya di Sipirok. Beragam motifnya terlihat sangat cantik dan elegan ketika digunakan, beberapa jenis Kain Ulos juga memiliki makna filosofis dan biasa digunakan saat acara adat Suku Batak.
Lokasi : Tapanuli Selatan
Ukuran : 40 xm x 60 cm
Media : Photo paper laminating doff
Memiliki tiga buah tali senar pada bagian atas dan pada bagian bawah terdapat satu sisi yang di bentuk persis menyerupai suara gendang pada umumnya. Cara memainkan Nung-Neng ini cukup simpel dimana tangan kanan memegang satu alat pukul yang memukul senar dan tangan kiri memukul bagian bawah sebagai gendangnya. Nung-Neng ini merupakan alat musik Tradisional Khas Tapanuli Selatan yang memiliki panjang satu ruas bambu.
Cara memainkan alat musik ini cukup dengan duduk saja dan alat musiknya di berdirikan miring sambil di tahan menggunakan kaki. Alat musik Nung-Neng ini cukup dimainkan oleh satu orang saja.
Pada penciptaan karya kesembilan yang berjudul Bermain Alat Musik Nung-Neng merupakan alat musik yang biasa digunakan untuk iring-iringan musik tor-tor dan penyambutan para raja. Alat musik Nung-Neng merupakan alat musik yang memiliki keunikan tersendiri dan hanya terbuat dari satu bahan saja, yaitu bambu.
Karya ini diambil menggunakan Camera Sony a6400, lensa Fix 50 mm, dengan setingan kamera Iso 400, bukaan diafragma f/5 dan shutter speed 1/125 sec. Pengkarya menggunakan teknik High Angle, dimana penempatan kamera lebih tinggi dari objek yang akan diambil. Bertujuan untuk memperlihatkan detail alat musik dan tulisan aksara batak pada alat musik Nung-Neng.
Lokasi : Tapanuli Selatan
Ukuran : 40 xm x 60 cm
Media : Photo paper laminating doff
Banyak mitos yang tersebar mengenai danau ini, berbeda dengan danau lainnya, danau ini dipercayai oleh masyarakat setempat bahwa ikan-ikan yang hidup di dalamnya merupakan ikan keramat dan tidak boleh di pancing apalagi dimakan. Ikan yang di anggap keramat tersebut adalah Ikan Jurung atau Ikan Mera (bahasa lokal). Ikan ini sangat mudah sekali di jumpai di sekitaran danau.
Pada penciptaan karya keempat yang berjudul Danau Siais yang memvisualisasikan danau yang dikelilingi oleh perbukitan dan hutan yang luas. Danau ini adalah danau kedua terbesar di Sumatera Utara setelah Danau Toba, memiliki luas sekitar 4,5 hektar. Terletak di Desa Rianiate, Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Karya ini diambil menggunakan Drone DJI Mini 3, dengan pengaturan aperture Iso 400, bukaan diafragma f/1.7 dan shutter speed 1/5000 sec. Pengkarya menggunakan teknik pengambilan Eye Bird Angle yang bertujuan untuk memvisualkan semua objek dari sudut pandang yang jauh lebih tinggi.
Lokasi : Tapanuli Selatan
Ukuran : 40 xm x 60 cm
Media : Photo paper laminating doff
Tor Simago-mago mengambil nama dari kata “Tor”, yang berarti bukit atau gunung dan “Simago-mago”, yang berarti yang tidak terlihat. Jadi, masyarakat setempat di sekitarnya menyebutnya Tor Simago-mago sebagai bukit atau gunung yang tidak terlihat.
Pada penciptaan karya ketujuh yang berjudul Tor Simago-mago merupakan panorama alam yang menampilkan view yang indah memukau dari puncak ketinggian 1.376 di atas permukaan laut, hamparan sawah yang luas, perkampungan di kejauahan dan udara yang sejuk diketinggian yang berkabut. Tor Simago-mago berada di Bukit Cimanggu, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Karya ini diambil menggunakan Drone DJI Mini 3 dengan pengaturan aperture Iso 100, bukaan diafragma f/1.7 dan shuteer speed 1/8000 sec. Pengkarya menggunakan teknik pengambilan foto Bird Eye Angle yang bertujuan untuk memvisualkan semua objek dari sudut pandang yang jauh lebih tinggi.
Lokasi : Tapanuli Selatan
Ukuran : 40 xm x 60 cm
Media : Photo paper laminating doff
Pada penciptaan karya keenam yang berjudul Air Terjun Timbulan terletak di Desa Bonan Dolok, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan. Air Terjun Timbulan hanya memiliki tinggi tiga meter saja, akan tetapi di bawahnya terdapat kolam penampungan dengan kedalaman dua meter kebawah yang berwarna biru dan jernih. Air Terjun Timbulan dikeliling oleh pepohonan hijau yang rindang dan masih terawat.
Karya ini diambil menggunakan Camera Sony a6400, lensa Artisan Fish-Eye 7.5 mm, dengan setingan camera Iso 100, shutter speed 1/4000 dan exposure f/0. Pengkarya menggunakan komposisi Low Angle dimana posisi kamera berada pada sudut bawah objek, sehingga memberikan kesan objek lebih besar juga terlihat elegan, dominan dan kuat.
Lokasi : Tapanuli Selatan
Ukuran : 40 xm x 60 cm
Media : Photo paper laminating doff
Terletak di Desa Maju Mambe, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, air terjun ini memiliki ketinggian jatuh sekitar 80 meter. Untuk mencapai lokasi air terjun, pengunjung harus menuruni anak tangga sejauh sekitar 700 meter dari dataran tinggi yang dikelilingi oleh hutan dengan kemiringan curam mencapai 60-80 derajat.
Pada penciptaan karya kelima yang berjudul Air Terjun Silima-lima merupakan air terjun yang menawarkan udara yang sejuk dan pemandangan yang indah karena secara geografis dikelilingi oleh dua gunung, yaitu Gunung Sibual-buali dan Gunung Lubuk Raya.
Karya ini diambil mengggunakan Drone DJI Mini 3 dengan pengaturan aperture Iso 100, bukaan diafragma f/1.7 dan shutter speed 1/3200 sec. Pengkarya menggunakan teknik pengambilan Eye Bird Angle yang bertujuan untuk memvisualkan semua objek dari sudut yang jauh lebih tinggi.
Lokasi : Tapanuli Selatan
Ukuran : 40 xm x 60 cm
Media : Photo paper laminating doff
Pada penciptaan karya ketiga yang berjudul Air Terjun Simatutung merupakan air terjun dengan ketinggian 150 meter. berbeda dengan air terjun biasa, air terjun ini mempunyai keunikan karena memiliki dua tingkat air yang berbeda. Air Terjun Simatutung berlokasi di Desa Rianiate, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan.
Karya ini diambil menggunakan Camera Sony a6400, lensa Artisan Fish-Eye 7.5 mm dengan pengaturan aperture Iso 100, bukaan diafragma f/0 dan shutter speed 1/100 sec. Pengkarya menggunakan komposisi Low Angle dimana posisi kamera berada pada sudut bawah objek, sehingga memberikan kesan objek lebih besar juga terlihat elegan, dominan dan kuat.