KESENIAN WAYANG GOLEK PUSAKA
GIRI HARJA DALAM FOTOGRAFI
DOKUMENTER
Bubuka Gunungan
Logo Giri Harja 3 Putra
Cepot Berkaki
Sname Drum
Settingan Panggung
Para Nayaga
Bonang
Sinden dan Juru Alok
Ukuran : 40×60 cm
Media Cetak : Paper Laminating Doff
Dalam Karya berjudul “Bubuka Gunungan”. Foto ini Menjelaskan Pertunjukan Wayang akan di mulai ketika Dalang mengangkat Gunungan Sebagai Simbol pembuka cerita, sebagai jeda sebuah cerita, dan penutup cerita. Lebih sebagai alat Prolog Dalang sebelum Wayang Golek memulai cerita. Gunungan terbuat dari kulit dan bentuk nya sama seperti Wayang Kulit meskipun di gunakan dalam scane tertentu saja, seperti yang telah di jelaskan di atas. Dalam pembaharuan nya aksi visual memaikan gunugan ini di dukung dengan adanya mesin fogger sebagai pendukung cerita dan visual agar terlihat megah. Sebelum mencabut Gunungan Dalang akan membuka cerita dengan melakukan kakawen terlebih dahulu atau nyanyian sebelum awal cerita, lalu di cabut dan dimainkan sambil di iringi musik gamelan.
Penggunaan mesin Fogger sendiri merupakan perkembangan dan ide pertunjukan yang di lakukan oleh Padepokan Giri Harja sebagai penggunaan teknologi modern, yang di simpan di bawah batang pohon pisang.
Foto ini di ambil pada Minggu 4 Mei 2025, Jam 08.50 WIB di Jelekong, Menggunakan Kamera Sony a7 mark 3, dengan ISO 2000, Aperture F/4, Shutter Speed 1/600, dan Fokus Lensa 35mm. Foto ini memperlihatkan tampak belakang Dalang memainkan Gunungan dengan tehnik Low angel untuk memeberikan kesan megah. Setelah proses pengambilan gambar karya foto kemudian masuk dalam proses editing dengan menggunakan perangkat lunak Adobe Lightroom yang kemudian di laukan Penyesuaian cahaya, Warna, Brighnest, Kontras agar lebih sesu
Ukuran : 40×60 cm
Media Cetak : Paper Laminating Doff
Foto ke tiga berjudul Giri Harja 3 Putra merupakan foto yang menjelaskan lambang padepokan Giri Harja 3 Putra sebagai salah satu Grup kesenian Wayang Golek terkenal di Jawa Barat. Padepokan Giri Harja 3 Putra didirikan pada tahun 2001 oleh Asep Sunandar Sunarya dan di pimpin oleh anaknya Ki Dalang Yogaswara Sunandar Sunarya sebagai Dalang nya. Saat ini Giri Harja 3 Putra menjadi pionir dalam melestarikam kesenian Wayang Golek, dalam satu bulan saja mereka hampir tidak pernah libur akibat jadwal manggung yang padat. GH3P (Giri Harja 3 Putra) merupakan generasi ke dua yanng di pimpin Dalang Yogaswara Sunandar Sunarya. Giri Harja 3 Putra Sendiri memiliki arti, Yaitu Giri Harja merupakan sebuah nama kampung di Desa Jelekong, angka 3 merupakan angka yang di ambil dari Abah Asep yang merupakan anak ke 3 dari Abah Sunarya, dan Putra merupakan penjelas dari Dalang Yogaswara yang merupakan anak dari Alm. Abah Asep Sunandar Sunarya.
Foto ini di ambil pada Minggu 4 Mei 2025, Jam 01.00 WIB, Menggunakan Kamera Sony a7 mark 3, dengan ISO 2000, Aperture F/4, Shutter Speed 1/320, dan Fokus Lensa 35mm. Karya ini di ambil untuk memperlihatkan detail lambang Giri Harja 3 Putra sebagai Padepokan kesenian Wayang Golek, dengan menggunakan komposisi Center dan tehnik Eye Level.Dalam pengambilan gambar pengkarya juga menggunakan teknik Eye Level agar hasil foto sejajar dengan pandagan mata. Setelah proses pengambilan gambar karya foto kemudian masuk dalam proses editing dengan menggunakan perangkat lunak Adobe Lightroom untul menyesuaikan Warna, Cahaya, Brigthnest, dan Kontras. yang kemudian di laukan Cropping pada bagiang yang tidak sesuai supaya gambar sejajar atau lurus.
Ukuran : 40×60cm
Media Cetak : Paper Laminating Doff
Foto Yang berjudul “Cepot Berkaki” ini menjelaskan tentang Wayang Cepot yang memiliki kaki, merupakan pengembangan karakter Cepot sebagai Karaktet Utama dalam pagelaran Wayang Golek. Dalam hal ini sebagian penonton jarang melihat Cepot berkaki namun tidak jarang juga Dalang Menanpilkan nya dalam pagelaran.
Foto ini di ambil pada Minggu 4 Mei 2025, Jam 01.15 WIB di Lembang. Menggunakan Kamera Sony a7 mark 3, dengan ISO 2000, Aperture F/8, Shutter Speed 1/250, dan Fokus Lensa 52mm. Pengambilan gambar ini menggunakan teknik Eye level dengan memperlihatkan Cepot Berkaki pada pagelaran Wayang Golek. Setelah proses pengambilan gambar karya foto kemudian masuk dalam proses editing dengan menggunakan perangkat lunak Adobe Lightroom yang kemudian di lakukan Cropping pada pinggir gambar agar lebih men Zoom. serta Penyesuaian cahaya agar lebih Maksimal.
Ukuran : 40×60cm
Media Cetak : Paper Laminating Doff
Foto ke enam belas ini berjudul “Snare Drum”. Menjelaskan Snare Drum alat musik Modern yang menjadi penggiring pertunjukan Wayang Golek. Snare Drum di gunakan sebagai penambah varisasi musik gar menambah kemewahan pertunjukan.
Foto ini di ambil pada Minggu 11 Mei 2025, Jam 20.30 WIB di Lembang. Menggunakan Kamera Sony a7 mark 3, dengan ISO 800, Aperture F/2, Shutter Speed 1/200, dan Fokus Lensa 35mm. Pengambilan gambar ini menggunakan teknik High level dimana posisi pengambilan gambar lebih tinggi dari objek untuk memperlihatkan penggunaan Snare Drum dalam pertunjukan Wayang Golek. Setelah proses pengambilan gambar karya foto kemudian masuk dalam proses editing dengan menggunakan perangkat lunak Adobe Lightroom yang kemudian di lakukan Penyesuaian cahaya agar lebih Maksimal.
Ukuran : 40×60 cm
Media Cetak : Paper Laminating Doff
Pada judul karya “Setting Panggung”, karya ini menjelaskan konsep pagelaran Dari segi Panggung, pagelaran Wayang Golek selalu di selenggarakan menggunakan Panggung Riging, hal ini membantu dalam ke selamatan dan kelancaran acara mengingat beratnya alat musik seperti Gamelan, Demung, Saron yang terbuat dari perunggu atau besi. Belum lagi Nayaga (Pengiring Musik Wayang Golek) yang berjumlah lebih dari 15 orang. Karya ini juga menjelaskan adanya Lighting sebagai pendukung pertunjukan, Ornamen-ornamen seperti hasil panen, dan Wayang yang di bariskan.
Pagelaran yang bertempat di Lembang ini merupakan acara hajatan pernikahan, yang di selengarakan menggunakan panggung Rigging agar bisa menopang keperluan pertunjukan dari segi kosep pagelaran. Karena banyak memakai lighting dan alat musik berat. Penggunaan panggung rigging juga menambahkan kesan mewah, dan megah.
Foto ini di ambil pada Minggu 4 Mei 2025, Jam 01.50 WIB di Jelekong, Menggunakan Kamera Sony a7 mark 3, dengan ISO 2500, Aperture F/5, Shutter Speed 1/100, dan Fokus Lensa 35mm. Pengambilan gambar bertujuan untuk memperlihatkan Konsep Panngung Rigging dan ornamen nya. karya ini menggunakan teknik Eye Level agar hasil foto terlihat sejajar dengan pandangan mata, Setelah proses pengambilan gambar karya foto kemudian masuk dalam proses editing dengan menggunakan perangkat lunak Adobe Lightroom yang kemudian di laukan penyesuaian Warna, Cahaya, Brighnest, dan Kontras. Serta Cropping pada bagiang yang tidak sesuai seperti meluruskan gambar agar sesuai dan lurus.
Ukuran : 40×60cm
Media Cetak : Paper Laminating Doff
Karya yang berjudul “Para Nayaga” ini menampilkan foto bersama para Nayaga (pengiring musik pertunjukan), yang di isi oleh berbagai rentan usia. Mulai dari Gen Z Sampai Gen X, ini membuktikan bahwa Kesenian Wayang Golek melakukan Regenerasi sebagai cara mslahirkan penerus kesenian. Nayaga ini lebih dari 15 orang.
Nayaga dalam wayang golek adalah grup pemusik gamelan yang mengiringi pertunjukan. Para Nayaga memainkan berbagai alat musik seperti kendang, gong, dan saron untuk menciptakan suasana dan mendukung jalannya cerita sesuai irama dalang. Nayaga adalah bagian penting yang membuat pertunjukan wayang golek berjalan.
Nayaga biasanya memainkan set gamelan Sunda, yang terdiri dari berbagai instrumen perkusi seperti, Kendang pemimpin grup musik dan pemimpin jalan nya alur musik, Goong, Saron, Demung, Saron, Bonang, Rebab, Suling, Gambang. nayaga adalah tulang punggung musik dari pertunjukan wayang golek, memastikan bahwa setiap adegan memiliki latar suara yang pas dan memukau.
Foto ini di ambil pada Minggu 31 Mei 2025, Jam 20.00 WIB di Kecamatan Banjaran. Menggunakan Kamera Sony a7 mark 3, dengan ISO 800, Aperture F/4, Shutter Speed 1/160, dan Fokus Lensa 35mm. Pengambilan gambar ini menggunakan teknik Eye level agar foto bersama ini terlihat dengan Jelas. Setelah proses pengambilan gambar karya foto kemudian masuk dalam proses editing dengan menggunakan perangkat lunak Adobe Lightroom yang kemudian di lakukan Penyesuaian cahaya agar lebih Maksimal.
Ukuran : 40×60cm
Media Cetak : Paper Laminating Doff
Pada foto yang berjudul “Pemain Bonang”. Pengkarya menjelaskan permainan alat musik tradisional yang ketukan nya lebih kaya, itu terlihal dari Gamelan yang lebih banyak variasi ketukan. Nayaga (sebutan untuk pengiring musik pagelaran Wayang Golek) menjadi salah satu juru kunci pagelaran Wayang Golek berjalan lancar.
Foto ini di ambil pada Minggu 31 Mei 2025, Jam 11.38 WIB di Pangalengan. Menggunakan Kamera Sony a7 mark 3, dengan ISO 1000, Aperture F/2, Shutter Speed 1/160, dan Fokus Lensa 35mm. Pengambilan gambar ini menggunakan teknik High level dimana posisi pengambilan gambar lebih tinggi dari objek untuk memperlihatkan pemain dengan Gamelan nya yang besar. Setelah proses pengambilan gambar karya foto kemudian masuk dalam proses editing dengan menggunakan perangkat lunak Adobe Lightroom yang kemudian di lakukan Cropping pada sisi gambar agar lebih men Zoom. serta Penyesuaian cahaya agar lebih Maksimal.
Ukuran : 40×60cm
Media Cetak : Paper Laminating Doff
Pada karya foto ke delapan belas yang berjudul “Sinden dan Juru Alok”. Pengkarya menghadirkan gambar Sinden dan Juru Alok (pengisi lagu pada celah pertunjukan) yang sedang menyanyikan tembang Sunda. Dalam prosesnya sinden dan juru alok menjadi salah satu pengiring yang wajib ada.
Foto ini di ambil pada Minggu 11 Mei 2025, Jam 11.40 WIB di Cililin Kabupaten Bandung Barat. Menggunakan Kamera Sony a7 mark 3, dengan ISO 800, Aperture F/5, Shutter Speed 1/160, dan Fokus Lensa 52mm. Pengambilan gambar ini menggunakan teknik Eye level agar potret Sinden dan Juru alok terlihat dengan jelas. Setelah proses pengambilan gambar karya foto kemudian masuk dalam proses editing dengan menggunakan perangkat lunak Adobe Lightroom yang kemudian di lakukan Penyesuaian cahaya agar lebih Maksimal.