logoo

INTERPRETASI MAKNA LAGU IWAN
FALS DALAM FOTOGRAFI EKSPRESI

Ibu

Generasi Frustasi

Belum Ada Judul

Sarjana Muda

Sore Tugu Pancoran

Doa Pengobral Dosa

Sumbang

Balada Orang Pe-dalaman

Karya ini merupakan interpreta-si pengkarya dari lagu Iwan Fals yang berjudul “Ibu”. Menampil-kan mawar merah sebagai objek utama yang menyimbolkan ibu dikarenakan mawar memiliki makna sebuah kasih sayang dan menambah 3 mawar kecil yang menyimbolkan anak. Pada karya ini pengkarya juga menggunakan objek bulan yang menyimbolkan sebuah kesucian dan mendukung suasana romantis dari kasih sayang ibu.

Lagu “Ibu” menceritakan tentang kasih sayang dan perjuangan seorang ibu pada anaknya. Dalam lagu ini juga menjelaskan bagaimana seorang ibu rela berjuang me-lakukan apapun walau menempuh jarak jauh dan sharus menyakiti dirinya demi sang anak. Ketertarikan pengkarya pada lagu ini berawal dari pengalaman pribadi pengkarya yang juga memiliki kedekatan dengan sosok ibu. Karya ini dibuat bertu-juan untuk mengajak para penikmat foto sadar akan sosok seorang ibu dan lebih memperdulikan lagi atas perjuangan yang sudah dilakukannya.

Karya ini diangkat dari lagu Iwan Fals yang berjudul “Ge-nerasi Frustasi”. Mengguna-kan krayon sebagai simbol anak dan ditambah sayap yang rapuh sebagai simbol orang tua yang sudah tidak utuh lagi. Pengkarya juga menambahkan objek pendu-kung seperti lumpur yang berisikan narkoba dan alko-hol yang disimbolkan dengan botol alkohol, daun ubi yang berbentuk seperti daun ganja, obat-obatan, dan suntik medis.

Lagu “Generasi Frustasi” menceritakan tentang seo-rang anak yang mendapat-kan situasi keluarga yang sudah tidak utuh lagi atau biasa dikenal dengan broken home. Di dalam lagu terse-but seorang Lagu “Generasi Frustasi” menceritakan ten-tang seorang anak yang mendapatkan situasi keluar-ga yang sudah tidak utuh lagi atau biasa dikenal dengan broken home. Di dalam lagu tersebut seorang anak broken home menga-lami frustasi dikarenakan ke-adaan yang terjadi pada ke-luarganya, dan melampias-kan kefrustasiannya dengan hal-hal negatif seperti narko-ba dan alkohol. anak broken home mengalami frustasi di-karenakan keadaan yang ter-jadi pada keluarganya, dan melampiaskan kefrustasian-nya dengan hal-hal negatif seperti narkoba dan alkohol.

Pengkarya mengangkat lagu ini kedalam karya fotografi karena memiliki kesama-an dengan fenomena yang ada disekitar pengkarya. Dalam lingkungan perte-manan, pengkarya banyak menemukan teman-teman yang terjerumus dalam hal-hal negatif seperti yang dijelaskan dalam lagu “Generasi Frustasi” dialami oleh anak-anak yang berlatar belakang keluarga yang sudah tidak utuh lagi.

 

Karya selanjutnya merupakan visual dari lagu “Belum Ada Judul” dengan me-nampilkan objek gelas yang berisikan kopi sebagai simbol pertemanan dan objek cermin yang pecah sebagai simbol kerusakan. Pengkarya juga menggunakan objek tanah sebagai simbol perbandingan dengan objek dua gelas dengan asbak rokok, perbanding an yang dimaksud adalah simbol kehi-dupan dari pertemanan yang sebelum-nya hangat dan damai menjadi kotor.

Interpretasi pengkarya dari lagu “Belum Ada Judul” menceritakan ten-tang sebuah pertemanan di masa kecil yang damai dan hangat menjadi rusak karena salah satu dari pertemanan ter-sebut lebih mengutamakan ego pribadi.

Karya ini merupakan visual dari lagu Iwan Fals yang berjudul “Sarjana Muda”. Menam pilkan visual sebuah toga dengan tangan yang ingin menggapai balon-balon sebuah profesi. Pada penggunaan toga dan tangan merupakan simbol dari seorang sarjana, dan objek balon yang digabungkan dengan logo profesi merupakan simbol dari pekerjaann yang ingin digapai oleh seorang sarjana.

“Sarjana Muda” menceritakan tentang perju-angan hidup seorang sarjana muda yang harus berhadapan dengan kenyataan yang pahit setelah lulus kuliah. Dalam lagu ini me-nyampaikan keputusasaan seorang sarjana yang berjuang namun tak kunjung menda-patkan pekerjaan yang diinginkan.

 

Karya ini merupakan interpretasi dari lagu Iwan Fals yang berujudul “Sore Tugu Pancoran”. Pengkarya mengguna kan krayon sebagai objek utama yang menyimbolkan seorang anak dan me-nambah latar tempat yang dipenuhi ke-rikil sebagai simbol kehidupan yang di lalui oleh anak tersebut. Pada karya ini pengkarya juga menambahkan refleksi menggunakan objek cermin yang di da-lamnya terlihat krayon yang membawa properti seperti gitar, dan dagangan bagai simbol perjuangan seorang anak yang sudah bekerja walau di usia dini.

Lagu “Sore Tugu Pancoran” memba-has tentang perju-angan seorang anak yang sudah bekerja diusia yang masih dibawah umur hingga men-jadi tulang pung-gung keluarga. Di dalam lagu tersebut membahas sema-ngat seorang anak yang tetap berju-ang sebagai peda-gang di tengah kota yang keras karena keadaan ekonomi yang kekurangan.

Ketertarikan peng-karya pada lagu ini karena memiliki ke-cocokan dengan fe-nomena yang terja-di pada keadaan kota-kota besar saat ini. Berdasar-kan data dari Mitra Anak Mandiri -YKKS, kegiatan anak jalan di Indonesia adalah pengamen (52,8%), dan pedagang asongan (19,8%) (Putra, Bagus, Yeyen, 2022).

Pada karya selanjutnya merupakan inter-pretasi dari makna lagu Iwan Fals yang berjudul “Doa Pengobral Dosa”. Menampil-kan objek utama bunga mawar besar se-bagai simbol ibu dan mawar kecil sebagai simbol seorang anak dan menambah objek kode batang pada tangkai bunga mawar sebagai objek pendukung yang menyim-bolkan jual beli. Pengkarya juga menam-bah background awan gelap sebagai per-tanda suasana malam.

“Doa Pengobra Dosa” bercerita tentang seorang wanita yang terpaksa berprofesi sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) dike-hidupan sehari-harinya untuk tetap berta-han hidup di tengah dunia yang keras dan menjadi kepala keluarga untuk menafkahi kebutuhan seorang anak.

Catatan terkiini oleh Organisasi Buruh di Indonesia menunjukan ada 180.000 ma-syarakat yang terjebak dalam bisnis pro-stitusi, dan menurut Departemen Kesehat-an RI, sebanyak 129.000 perempuan di In-donesia berprofesi sebagai pekerja seks komersial di bawah umur 18 tahun. (Nur Rakhmah, 2024:50,51). Dari maraknya kasus yang terjadi mengenai PSK di Indo-nesia menjadi alasan pengkarya untuk menginterpretasikan lagu “Doa Pengobral Dosa”. Banyak faktor yang menyebabkan fenomena ini terjadi, salah satunya adalah faktor sulitnya menunjang kebutuhan hidup di suatu perkotaan. Namun, dalam lagu ini mencoba untuk menjelaskan seka-lipun wanita tersebut berprofesi sebagai PSK, dia tetaplah juga seorang manusia yang berjuang untuk mencukupi kebutuh-an hidup dirinya.

Karya selanjutnya merupakan visual dari lagu yang ber-judul “Sumbang” dengan visual sebuah manekin yang mengguna-kan kostum berbe-da menyimbolkan manusia dari ka-langan yang berbe-da dan tidak mela-kukan apa-apa atau berdiam diri, dengan latar tempat sampah yang disimbolkan sebagai tempat tinggal yang kumuh atau tidak sehat.

Dalam lagu “Sum-bang” menjelaskan tentang masyara-kat-masyarakat yang tidak melaku-kan apa-apa walau dalam kondisi ling-kungan yang tidak lagi sehat. Makna lagu ini tertuju pada manusia yang tak memperdulikan apapun yang terja-di satu sama lain di lungkungan yang sama walau ling-kungan tersebut dapat merusak satu sama lain.

Fenomena yang terjadi pada lagu “Sumbang” juga menjadi ketertarikan bagi pengkarya untuk menjadikan lagu tersebut menjadi visual karya fotografi ekspresi. Permasalah an yang terjadi di dalam lagu ini sangat dekat dengan lingkungan pengkarya. ari–hari.

Hal yang ditemukan pengkarya yaitu banyak orang-orang yang enggan mela-kukan sesuatu untuk melawan atau me-lakukan pergerakan di situasi lingkung-an yang tidak baik walau dengan sadar lingkungan yang dimaksud dapat ber-dampak dikehidupan sehari-hari.

Karya ini berjudul ” Balada Orang Pe-dalaman”. Pengkarya menggunakan mahkota suku Dayak Kalimantan seba-gai objek utama dan menambahkan dua tangan yang sedang mengangkat mah-kota tersebut. Pengkarya juga menggu-nakan foreground tanah dan rantai-ran-tai yang saling mengikat satu sama lain sebagai simbol pengekangan.

Lagu “Balada Orang Pedalaman” menje-laskan tentang fenomena masyarakat adat yang hak-hak nya selalu dirampas oleh para penguasa yang datang dari perkotaan. Para pelaku penindasan ini memanfaatkan keterbatasan masyara-

Pengkarya menggunakan simbol mahkota adat dayak sebagai salah satu simbol dari banyaknya konflik yang terjadi dari ma-syarakat adat dan perusahaan. Dilansir dari laman website Interaktif Tempo pada tahun 2023, masyarakat adat Dayak Hibun di Kabupaten Sanggau, Provinsi Kaliman-tan Barat memperjuangkan hak tanahnya melawan 43 perusahan sawit sejak tahun 1995 hingga informasi terakhir pada tahun 2023 juga belum mendapatkan titik terang (Khairiyah Fitri, 2023). Hal tersebut menjadi alasan pengkarya menjadikan mahkota dayak sebagai simbol yang digu-nakan dalam penggarapan kaya “Balada Orang Pedalaman”.

Nama : Jhogy Nabhasa SIahaan
Nim : 09411421
Tahun : 2025