Animasi ini mengangkat kisah tentang luka yang tak kasat mata, bukan luka yang tercetak di permukaan tanah, melainkan luka yang tergores dalam hati bangsa. “Luka Negara” hadir bukan hanya sebagai sebuah karya animasi atau lagu, tetapi sebagai refleksi mendalam atas kondisi sosial dan emosional masyarakat yang sering kali terabaikan. Melalui visual yang simbolis dan alunan musik yang penuh makna, animasi ini mencoba menggugah kesadaran penonton akan berbagai bentuk penderitaan dan ketimpangan yang terjadi di sekitar kita baik itu kehilangan keadilan, runtuhnya empati, maupun suara-suara rakyat yang tak lagi didengar. “Luka Negara” menjadi cermin kecil dari kenyataan besar, menggambarkan bagaimana luka-luka itu tumbuh diam-diam di balik senyum bangsa yang tampak kuat di permukaan. Setiap adegan dan nada di dalamnya mengajak kita untuk merenung, memahami, dan merawat kembali kemanusiaan yang mulai pudar. Ini bukan hanya kisah tentang kesedihan, tetapi juga tentang harapan untuk sembuh agar bangsa ini bisa kembali utuh, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara batin.