logoo

Transisi dewasa lewat album “mantra- mantra” karya Kunto Aji sebagai ide penciptaan karya seni lukis

Ukuran: 170 x 130 cm 

Media: Acrylic on Canvas 

Karya ini bersumber dari salah satu lirik lagu dari album “Mantra Mantra” dari Kunto Aji yang berjudul lagu “Rancang Rencana” yakni sebagai berikut: “Ku terjebak dalam pusaran waktu” “Kau menahanku tak terburu-buru” “Ambisiku impianku” “Yang membutakan ah…” Pada visual karya ini banyak terinspirasi dari lirik tersebut, yang menunjukkan si figur anak perempuan yang digarap dengan warna kontras coklat dan krim ke-oranyean dengan menggunakan teknik plakat. Anak perempuan tersebut sedang menyetir mobil sambil menangis sembari membawa tas raksasa yang ia miliki. Tangisan dengan pupil spiral tersebut mengangkat tentang rasa frustasi serta kebingungan.

Mobil mini warna biru tersebut menggambarkan keadaan mental saat awal menghadapi kehidupan nyata, lewat penggunaan warna biru cerah menurut Frank H. Mahnke (1996) yang menyatakan bahwa biru cerah cenderung melambangkan rasa sedih, kesendirian, refleksi, serta kesunyian. pengkarya juga menghadirkan mobil tersebut ada banyaknya baret sebagai visual pendukung tentang perjalanan yang dilalui dan roda yang berukuran berbeda yang merujuk pada ketidaksempurnaan. Sedangkan tas raksasa yang dibawa mengangkatkan tentang perihal yang di inginkan, ambisi, impian dan pikiran. Langit sore kemerahan sendiri biasanya diasosiasikan sebagai berakhir satu hari atau penutup hari. Sedangkan untuk visual rerumputan tinggi dan tanah berlumpur serta berbatuan yang digarap secara aquarel tersebut digambarkan sebagai tempat yang asing dan antah berantah.

Berdasarkan penjabaran yang tertera, dapat disimpulkan bahwasanya di lagu ini, Kunto Aji ingin menggambarkan keadaan-keadaan seseorang yang ingin melangkah kedepan tetapi masih punya pertimbangan atas apa yang dilakukan (Nurcholis & Djalil, 2022). Ketika masuk ke masa dewasa kita memiliki banyak perencanaan dan ambisi, ini memaksa diri untuk maju dan membuat bingung sendiri untuk membuat pilihan lewat visualisasi mobil mini biru yang bobrok dan tidak sempuna. Waktu terasa begitu cepat dan akhirnya pada saat satu momen tersadar, merasa salah dalam memulai, dan terlambat untuk berubah yang akhirnya tersesat. Muncul penyesalan dan khawatir untuk melangkah ke jenjang berikutnya yang diwakilkan lewat visual suasana langit sore serta rerumputan dan tanah berlumpur.

Ukuran: 170 x 140 cm

Media: Acrylic on Canvas

Karya yang berjudul “Sulung” ini berfokus pada perspektif pengkarya terhadap peran si Sulung dalam sebuah keluarga yang tidak lain dan tidak bukan adalah kakak dari si pengkarya. Anak pertama merupakan harapan dan anak emas yang paling ditunggu tunggu oleh orang tua, ia mulai beranjak dewasa dan sampai punya seorang adik dan diberi gelar “Sulung”.

Pada karya ini figur si “Sulung” yang dilukis dengan warna krim oranye yang kontras karena bertransformasi dengan visual sebuah lilin yang menyala. Lilin yang awalnya dinyalakan dengan api menjadi sumber cahaya di kegelapan yang lama kelamaan terbakar dan meleleh habis, yang menyalakan lilin tersebut bisa merasakan kehangatan dan cahaya dari si lilin. Selain itu pada visual lelehan di kepala sebelah kanan si figur terlihat memunculkan visual sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan adik dengan ekspresi yang berbeda beda mewakilkan keragaman respon terhadap si Sulung. Kemudian pada visual rumah dan uang menggambarkan standar materi yang harus dicapai jika ingin menjadi orang dengan hidup enak, dan visual emoji senyuman mewakilkan wajah yang menjadi panutan di depan semua orang. Pada background tampak suasana dengan warna dingin di bagian luar dan warna panas didalam yang menganalogikan prioritas yang ia tanggung dan sayangi lewat warna yang ada dibelakang si figur utama. Dengan pemilihan judul dari Sulung untuk karya ini berdasarkan dari salah satu musik dari album “Mantra-mantra” yang berjudul sama. Pada lagu ini Kunto Aji ingin melembutkan hati anak sulung lewat pengulangan lima bait lirik yang sama yaitu:

 

“Cukupkanlah” “Ikatanmu”

“Relakanlah yang tak seharusnya untukmu”

 dan akhirnya ditutup dengan lirik berisi :

“Yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri”

Berdasarkan lirik tersebut disebutkan sebagai nasihat agar Sulung bisa bisa melembutkan hati dan bisa lebih memprioritaskani serta menyayangi dirinya sendiri.

Ukuran: 150 x 150 cm

Media: Acrylic on Canvas

Tahun: 2025

Karya “Pilu Membiru” ini merupakan tribute kepada salah satu anggota keluarga yang berpulang dari pihak ibu dari si pengkarya. Pilu membiru merupakan gabungan dari dua kata yaitu “ Pilu” dan “Membiru”, dalam KBBI arti dari “ Pilu” yaitu menggambarkan perasaan sedih yang mendalam atau terharu yang bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti kesedihan, penderitaan, atau peristiwa yang mengharukan. Sedangkan kata “Membiru” berarti merasa sedih, tidak bahagia, sedang meratap, atau tidak bersemangat.

Karya ini terinspirasi dari lirik lagu “Pilu membiru” yang menekankan di bagian:

“Tak ada yang seindah matamu” “Hanya rembulan”

“Tak ada yang selembut sikapmu” “Hanya lautan”

“Tak tergantikan oh…” “Walau kita tak lagi saling” “Menyapa…”

Di lagunya, bait lirik tersebut diulang sebanyak tiga kali, yang menekankan kerinduan mendalam terhadap mendiang dari orang yang disayangi. Lewat lirik tersebutlah terwujud karya yang dihubungkan dengan tema transisi dewasa dalam menghadapi duka yang dialami. Pada karya ini tampak dua figur utama yaitu satu dengan perawakan kecil yang mewakilkan sang adik dan satunya memiliki badan yang lebih besar yang merupakan sang kakak. 

Visual figur sang adik yang kecil tampak mengeluarkan cahaya hangat warna kuning yang mengartikan bahwasannya sang adik sudah berpulang, ia sedang duduk berayun di tetesan air mata dari figur sang kakak yang membentuk menjadi semacam ayunan seperti kristal yang mewakilkan kesucian dan sebagai tempat hinggap terakhir sang adik sebelum mengucap pergi pada saudara- saudaranya. Sang kakak tampak berpose seperti menadah tangan sebagai simbol sedang berdo‟a kepada adiknya, diantara mereka berdua ada makhluk kecil berkepala percikan cahaya sedang mengelilingi mereka. Para makhluk kecil tersebut mewakilkan jumlah keseluruhan saudara dari sang kakak adik mereka berdua yang berjumlah delapan orang. Percikan api yang ada di kepala para saudara merupakan sinar yang menerangi saat sendu dan pilu yang di wakilkan juga lewat background lukisan yang polos bergradasi warna kelam hitam kebiruan.

Karya ini saya persembahkan untuk memvisualkan bahwa saat beranjak dewasa kita tidakluput dalam mengalami perpisahan dan kedukaan yang dialami, duka tersebut membentuk diri kita menjadi pribadi lebih kuat. Kunto Aji mengemukakan atas judul lagu ini untuk membantu para pendengarnya mengenai bagaimana cara mereka untuk menanggapi kenangan-kenangan tentang seseorang hingga bisa menerima kejadian apapun yang sudah terjadi sebagai bagian dari masa lalu. (Retnowati et al., 2022:10-11)

Ukuran: 180 x 150 cm

Media: Acrylic on Canvas

Tahun: 2025

Karya ini merupakan sebuah gundahan terdalam dari si pengkarya, karya yang berjudul bungsu ini mengambil inspirasi dari lagu “Bungsu” karya Kunto Aji, lagu ini memiliki lirik yang sama seperti lagu Sulung, tetapi dengan instrument musik, cara menyanyi dan tujuan kepada siapa lagu ini dari Kunto Aji. Bisa dilihat lrik lagunya sebagai berikut:

“Sebelum kau menjaga”

“Merawat melindungi segala yang berarti” “Yang sebaiknya kau jaga”

“Adalah dirimu sendiri”

Bungsu dalam KBBI artinya adalah anak termuda atau anak terakhir dari suatu keluarga. Selain itu, istilah ini juga bisa merujuk pada anak yang paling kecil dalam keluarga. Jadi, “Bungsu” adalah sinonim dari “anak terakhir” atau “anak bontot”. Anak Bungsu dalam mata masyarakat diasosiasikan tidak jauh dari anak manja, karena biasanya dianggap memiliki orang tua dan abang atau kakak yang di jaga penuh perhatian, yang menyebabkan anak bungsu diangap anak yang harus selalu di perhatikan dan tidak perlu bekerja keras seperti kakak kakaknya. Pada karya ini si pengkarya yang merupakan anak bungsu dari dua bersaudara mencoba untuk mengekspresikan tentang statement streotip terhadap anak bungsu, yang dimana sering dianggap anak manja. Tetapi disini pengkarya bukan menjadikan ini sebagai tolak ukur adu nasib, hanya saja mengajarkan bahwa setiap orang tidak peduli urutan keluarga entah paling tua atau muda, semuanya memiliki porsi masalah mereka masing-masing.

Ukuran: 170 x 130 cm

Media: Acrylic on Canvas

Pada karya yang berjudul “Rehat” ini dalam KBBI diartikan sebagai istirahat. Kata istirahat sendiri berarti kondisi dimana suatu keadaan otak dan tubuh merasa tenang, relaks, tanpa tekanan emosional, dan bebas dari perasaan gelisah. Karya ini sendiri bercerita tentang si pengkarya yang ingin merasakan tempat bersender di kala lelah dan mencari tempat nyaman untuk berhenti sejenak dari hiruk piruk lelahnya dunia. Karya ini terinspirasi dari penggalan lirik lagu ”Rehat” yaitu sebagai berikut:

“Yang ditunggu” “Yang diharap”

“Biarkanlah semesta bekerja

 “Untukmu…” “Tenangkan hati”

“Semua ini bukan salahmu” “Jangan berhenti”

“Yang kau takutkan takkan terjadi…”

 Dalam visual karya dari penggalan lirik tersebut dapat disimpulkan lagu “Rehat” mengisyaratkan bahwa apapun hasil yang didapatkan ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin, pasrahkan saja hasilnya kepada Tuhan. Disini dapat dilihat adanya figur raksasa yang hampir memenuhi isi lukisan. Figur raksasa tersebut divisualisasikan seperti planet lengkap dengan angkasa luar. Alasan visual tersebut di realisasi dalam angkasa luar karena terinspirasi dari salah satu bait lirik lagu “Rehat” dari Kunto Aji yaitu “Biarkanlah Semesta Bekerja, Untukmu” dari lirik tersebut saya menafsirkan alam Semesta yang mencakup angkasa luar, yang dimana tentu angkasa luar memiliki pergerakan stabil nan teratur dari kuasa Tuhan. Serta angkasa luar merupakan sesuatu yang tidak dijangkau manusia, saya menjadikan visual tersebut sebagai pelarian dan tempat istirahat seperti alam semesta di angkasa luar yang hening tapi tetap berjalan seperti biasa, ditambah para figur yang merupakan keluarga sebagai tempat bersandar, termasuk kucing yang melayang yang merupakan kucing peliharaan yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Rehat yang diinginkarn saat masa masa dewasa ini hnaya ingin sekedar berehat bersama keluarga yang sudah lama tidak bertemu, dan melepas rindu merupakan rehat terbaik.

Nama : Salsabila Azzahra Siregar
Nim : 09411421
Tahun : 2025

Rancang Rencana

Sulung

Pilu Membiru

Bungsu

Rehat